Articles | Wisata Sejarah | 17 Mar 2015

Dari Prasasti Hingga Es Selendang Mayang di Museum Fatahillah

Museum Sejarah Jakarta menjadi salah satu objek wisata murah meriah di Jakarta. Lokasinya berada di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Maka tak heran jika masyarakat lebih mengenal dengan nama Museum Fatahillah. Ada juga yang mengatakan, nama Fatahillah berasal dari seorang pahlawan untuk mengenang jasanya mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

Jika Anda kurang familiar dengan Jalan Taman Fatahillah, lokasi museum ini berada di kawasan Kota Tua Jakarta yang juga memiliki museum lainnya, seperti Museum Bank Indonesia, Museum Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang. Tak susah menemukan Museum Fatahillah mengingat museum ini berada tepat di dekat lapangan sebagai sentral dari aktivitas pengunjung hingga para pedagang makanan. Ditambah museum ini juga salah satu bangunan yang paling besar jika dibandingkan lainnya, didominasi warna putih dan hijau.

Dulunya, bangunan ini merupakan sebuah gedung balai kota yang dibangun pada 1707-1710. Dengan harga tiket masuk Rp 5.000 (dewasa), Rp 3.000 (mahasiswa), dan Rp 2.000 (pelajar/anak-anak), Anda akan melihat bangunan menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda. Bangunan ini terdiri dari ruang utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan lainnya yang biasa digunakan untuk kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah. Datanglah dari Selasa hingga Minggu, sebab sama seperti museum lainnya, Musuem Fatahillah tutup pada hari Senin.

Berhuruf Palawa dan Berbahasa Sansekerta
Sebagai saksi perjalanan dari yang dulu bernama Sunda Kelapa dan saat ini bernama Jakarta, Museum Fatahillah menyimpan banyak barang peninggalan sejarah, mulai dari peninggalan Tarumanegara dan Pajajaran, mebel antik, arca, kapal dan lainnya yang tersebar di antara Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Salah satu koleksi Museum Fatahillah yang menarik perhatian adalah replika prasasti yang dibuat semirip mungkin dengan yang aslinya.

Saat memasuki Ruang Prasejarah Jakarta, Anda akan langsung melihat tiga buah prasasti yang jaraknya tak begitu jauh satu sama lain, yaitu Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, dan Prasasti Kebon Kopi. Prasasti Tugu bentuknya mirip dengan telur bulat yang terdiri dalam lima baris tulisan berhuruf palawa dan berbahasa Sansekerta, menceritakan tentang pembuatan dua buah sungai, yakni Candrabhafa dan Gomati. Prasati Tugu ditemukan di Kampung Batu Tumbu, Bekasi pada 1879. Jika Anda ingin melihat aslinya, maka Prasasti Tugu berada di Museum Nasional. Untuk Prasasti Ciaruteun, ditemukan di tepi aliran Ciaruteun, Kampung Muara, Cibubulang Bogor pada 1863. Prasasti Ciaruteun berisikan barisan tulisan berhuruf palawa dan berbahasa Sansekerta, berisikan tentang sepasang telapak kaki yang Mulia Raja Purnawarman. Sedangkan prasasti Kebon Kopi merupakan peninggalan sejarah yang dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor.

Bukan hanya tiga prasasti di atas, Musuem fatahillah juga memiliki replika Prasasti Batutulis yang ditemukan di Batutulis, Bogor pada tahun 1455. Berukuran 161 cm dengan lebar 152 cm, prasasti Batutulis dipahat pada sebuah batu pipih berbentuk gunungan dalam Sembilan baris tulisan dengan huruf Jawa kuno dan bahasa Sunda Kuno. Terdapat juga Prasasti pasirawi yang ditemykan pada tahun 1867 di Bukit Pasirawi, Cipamingkis, Jonggol, kabupaten Bogor. Sayangnya, prasasti ini tidak dapat dibaca karena pahatannya berupa gambar di sebuah batu besar.

Es Selendeng Mayang
Tak jauh dari Ruang Prasejarah Jakarta, Anda akan menemukan sebuah pintu yang menghubungkan antara gedung utama lantai satu Museum Fatahillah dengan taman. Jika sudah lelah mengelilingi lantai satu, sebaiknya keluar sebentar untuk menghirup udara segar di bawah pepohonan rindang yang tersebar di halaman. Museum menyediakan beberapa bangku dan meja, cocok untuk menyantap makanan khas Jakarta.





Ya, saat saya datang ke taman Museum Fatahillah yang berada di belakang museum, saya menemukan beberapa penjaja makanan khas Jakarta. Kala itu saya memesan es selendang mayang yang semakin sulit ditemukan. Rasa segar dari santan dan sirup merah yang diaduk dengan es batu, melepas dahaga saya saat lelah berkeliling Museum Fatahillah. Dengan harga Rp 5.000, es selendang mayang cukup mampu mengganjal rasa lapar saya karena terbuat dari tepung beras berbentuk kenyal dan lembut. (Herti Annisa)

TAGS:

LINKS: